TUHAN YANG BERTARUH

TUHAN YANG BERTARUH

Author:
Price:

Baca selengkapnya

 





ISBN: Dalam Proses
Kategori: Non Fiksi
Pengarang: Efesus Suratman
Penerbit: Infinite Publisher
Kota, Tahun: Jakarta, Agustus 2026
Tebal: 242 halaman
Berat: ±350 gr
Panjang x Lebar: 14.8 x 21 cm
Stok: 50

Mengapa orang benar tetap menderita? Apakah iman masih dapat bertahan ketika keluarga, kesehatan, harta, kehormatan, dan seluruh rasa aman berubah menjadi abu?

Tuhan yang Bertaruh membawa pembaca memasuki pergumulan Kitab Ayub—kisah seorang yang dinyatakan saleh oleh Allah, tetapi justru mengalami penderitaan yang tidak dapat dijelaskan melalui rumus sederhana tentang dosa dan hukuman. Di balik kehancuran hidup Ayub berlangsung sebuah drama kosmis: Iblis menuduh bahwa manusia menyembah Allah hanya karena berkat, perlindungan, dan keuntungan yang diterimanya. Ketika semua itu diambil, masihkah Allah dikasihi karena diri-Nya sendiri?

Kata “bertaruh” dalam buku ini bukan gambaran tentang Allah yang berjudi dengan nasib manusia. Istilah tersebut digunakan sebagai metafora untuk menunjukkan keyakinan Allah terhadap karya anugerah-Nya dalam diri Ayub—anugerah yang sanggup melahirkan kesetiaan, bahkan ketika iman terluka, doa terasa tidak terjawab, dan Allah seolah berdiam diri.

Melalui ratapan Ayub, kegagalan para sahabatnya, serta runtuhnya teologi yang terlalu cepat menghakimi orang yang menderita, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa iman sejati tidak selalu berbicara dalam ketenangan. Terkadang iman hadir dalam tangisan, pertanyaan, protes, dan keberanian untuk tetap menghadap Allah dari tengah luka.

Perjalanan Ayub kemudian diarahkan menuju Kristus, Sang Benar yang menderita, dituduh, ditolak, dan disalibkan. Di dalam salib, Allah tidak menjawab penderitaan dari kejauhan, tetapi masuk ke dalamnya. Dalam kebangkitan, dinyatakan bahwa tuduhan, penderitaan, dosa, dan kematian tidak memperoleh kata terakhir.

Bergerak dari abu menuju salib, dan dari ratapan menuju pengharapan, Tuhan yang Bertaruh merupakan undangan untuk memandang penderitaan dengan lebih jujur, berteologi dengan lebih rendah hati, serta menemukan bahwa di tengah luka yang belum terjelaskan, kasih dan kesetiaan Allah tetap tidak tergoyahkan.



0 Reviews